MARGOMULYO — Rabu, 30 September 2026. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo kembali melaksanakan kegiatan Turun ke Bawah (TURBA) rutin sebagai bagian dari ikhtiar mendekatkan para ulama dengan jamaah serta memperkuat silaturahmi dan pembinaan keagamaan di tengah masyarakat.
Kegiatan TURBA kali ini dilaksanakan pada Rabu, 30 September 2026, pukul 20.00–22.00 WIB (Malem kamis Legi), bertempat di Masjid At-Thohir, Dusun Pluntu, Desa Sumberjo, Kecamatan Margomulyo. Kegiatan tersebut berlangsung dalam suasana penuh keakraban dan kekhidmatan, diikuti oleh segenap jamaah MATA AIR (Majelis Taklim At-Thohir), jamaah Masjid At-Thohir, tokoh agama, serta tokoh masyarakat setempat.
Hadir dalam kegiatan tersebut Kiyai Badrun Sulaiman, Ketua MUI Kecamatan Margomulyo, yang berkesempatan menyampaikan kajian keagamaan kepada para jamaah.
Meneladani Rasulullah dalam Memperbanyak Syukur
Dalam kajiannya, Kiyai Badrun mengajak jamaah untuk senantiasa meneladani Rasulullah ﷺ dalam memperbanyak syukur kepada Allah SWT atas berbagai nikmat yang telah diberikan.
Menurutnya, syukur tidak cukup hanya diucapkan dengan lisan melalui kalimat alhamdulillah, tetapi harus diwujudkan dengan menggunakan nikmat Allah untuk melakukan kebaikan dan mendekatkan diri kepada-Nya.
Allah SWT berfirman:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat berat.’”(QS. Ibrahim: 7)
Kiyai Badrun kemudian mengingatkan bahwa kehidupan manusia dipenuhi nikmat yang sering kali tidak disadari. Nikmat kesehatan, kesempatan berkumpul dengan keluarga, kesempatan menghadiri majelis ilmu, nikmat iman, Islam, serta kemampuan untuk beribadah merupakan karunia Allah yang semestinya semakin mendekatkan seorang hamba kepada-Nya.
Rasulullah ﷺ sendiri memberikan teladan yang sangat kuat dalam hal ini. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim, ketika ditanyakan mengapa beliau bersungguh-sungguh dalam beribadah hingga kedua kakinya bengkak, beliau menjawab:
أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا
“Tidakkah aku ingin menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?”
Dari keteladanan Rasulullah ﷺ tersebut, Kiyai Badrun mengajak jamaah untuk tidak menjadikan ibadah hanya sebagai kewajiban, tetapi juga sebagai bentuk ungkapan syukur seorang hamba kepada Allah SWT.
Keagungan Dzikir dan Kemuliaan Surat Al-Fatihah
Pembahasan kemudian berlanjut pada keagungan dzikir dan keutamaan Surat Al-Fatihah.
Kiyai Badrun menjelaskan bahwa dzikir merupakan salah satu jalan untuk menjaga hati agar senantiasa terhubung dengan Allah SWT. Ketika lisan terbiasa berdzikir, hati akan lebih mudah mengingat Allah dalam berbagai keadaan.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.”(QS. Al-Ahzab: 41–42)
Allah juga berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”(QS. Ar-Ra'd: 28)
Menurut Kiyai Badrun, ayat tersebut menunjukkan bahwa dzikir bukan hanya aktivitas lisan, tetapi merupakan jalan untuk menghadirkan kesadaran seorang hamba terhadap kebesaran Allah SWT.
Dalam konteks itulah, beliau kemudian menguraikan keutamaan Surat Al-Fatihah, surat yang setiap hari dibaca oleh umat Islam dalam setiap rakaat salat.
Kiyai Badrun mengutip keterangan dalam Kitab Al-Mukhtathafat, yang disampaikan dalam kajiannya:
الْفَاتِحَةُ لِمَا قُرِئَتْ لَهُ
“Al-Fatihah itu tergantung untuk apa ia digunakan dalam berdoa.”
Dalam penjelasannya, Kiyai Badrun menyampaikan bahwa Al-Fatihah memiliki kedudukan yang agung dan menjadi salah satu surat yang sangat utama dalam Al-Qur'an. Karena itu, ketika membaca Al-Fatihah dalam rangka berdoa kepada Allah untuk berbagai hajat yang baik, seorang Muslim hendaknya membacanya dengan penuh keyakinan, adab, kekhusyukan, dan pengharapan kepada Allah SWT.
Penjelasan tersebut juga dikuatkan dengan hadis tentang keutamaan Al-Fatihah. Rasulullah ﷺ bersabda kepada seorang sahabat mengenai Ummul Qur'an:
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِي أُوتِيتُهُ
“Alhamdulillahi Rabbil 'alamin adalah As-Sab'ul Matsani (tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang) dan Al-Qur'an yang agung yang diberikan kepadaku.”(HR. Bukhari)
Kiyai Badrun juga mengingatkan bahwa keagungan Al-Fatihah tidak boleh dipahami sebagai bacaan yang berdiri sendiri tanpa adab dan tuntunan. Justru, semakin memahami kemuliaannya, seorang Muslim hendaknya semakin menghadirkan hati ketika membacanya.
Al-Fatihah sebagai Jalan Munajat kepada Allah
Dalam kajiannya, Kiyai Badrun mengajak jamaah untuk melihat Al-Fatihah sebagai sebuah munajat. Di dalamnya terdapat pujian kepada Allah, pengakuan terhadap rububiyah-Nya, pengakuan bahwa hanya Dia yang berhak disembah, sekaligus permohonan agar diberikan petunjuk menuju jalan yang lurus.
Allah SWT berfirman:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus.”(QS. Al-Fatihah: 5–6)
Karena itu, membaca Al-Fatihah bukan sekadar menggerakkan lisan. Ada pengakuan seorang hamba di dalamnya: bahwa hanya Allah tempat menyembah, hanya Allah tempat meminta pertolongan, dan hanya Allah yang mampu memberikan petunjuk.
Dalam hadis qudsi yang diriwayatkan Imam Muslim, Allah SWT berfirman:
قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ
“Aku membagi salat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.”
Hadis tersebut menggambarkan betapa agungnya kedudukan Al-Fatihah dalam salat. Setiap ayat yang dibaca merupakan bagian dari dialog spiritual antara seorang hamba dengan Rabb-nya.
Dalam perspektif para ulama, kemuliaan Al-Fatihah juga terletak pada kandungan maknanya yang mencakup pokok-pokok ajaran agama: tauhid, ibadah, permohonan pertolongan, pengakuan terhadap rahmat Allah, serta permohonan hidayah.
Karena itu, Kiyai Badrun mengajak jamaah untuk tidak tergesa-gesa ketika membaca Al-Fatihah. Hendaknya setiap ayat direnungi, dihayati, dan dijadikan jalan untuk memperbarui hubungan batin dengan Allah SWT.
Silaturahmi Setelah Kajian
Setelah rangkaian kajian dan dialog selesai, kegiatan dilanjutkan dengan suasana yang lebih santai. Kiyai Badrun Sulaiman menyempatkan diri untuk beramah tamah bersama para jamaah, pengurus MATA AIR, serta takmir Masjid At-Thohir.
Suasana penuh keakraban tersebut menjadi penutup kegiatan TURBA MUI Margomulyo malam itu. Silaturahmi antara ulama, tokoh masyarakat, pengurus majelis taklim, takmir masjid, dan jamaah menjadi bagian penting dalam memperkuat hubungan serta membangun kebersamaan dalam kehidupan keagamaan masyarakat.
Kegiatan TURBA tersebut sekaligus menjadi ruang untuk terus menghidupkan majelis ilmu di tengah masyarakat. Bukan hanya untuk menambah pengetahuan keagamaan, tetapi juga untuk merawat tradisi silaturahmi, memperkuat ukhuwah, dan bersama-sama menumbuhkan kecintaan kepada Allah SWT dan Rasulullah ﷺ.
Dari Masjid At-Thohir Pluntu malam itu, pesan yang dibawa pulang para jamaah terasa sederhana namun mendalam: memperbanyak syukur, menghidupkan dzikir, memperbaiki kualitas ibadah, dan menjadikan Al-Fatihah bukan sekadar bacaan yang diulang, tetapi juga jalan untuk bermunajat dan mendekat kepada Allah SWT.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar